Rabu 29 Nov 2023 12:31 WIB

Forum Pendiri Demokrat: SBY Setengah Hati Dukung Gibran

Sahat meyakini, SBY merupakan sosok negarawan.

Rep: Nawir Arsyad Akbar/ Red: Teguh Firmansyah
Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Foto: Youtube/PartaiDemokrat
Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Forum pendiri Demokrat atau Forum Komunikasi Lintas Pendiri Deklarator Kader (FKLPDK) menyatakan mencabut dukungannya dari pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka. Mereka juga menilai Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), setengah hati mendukung pasangan nomor urut 2 itu.

Hal tersebut terbukti dari banyaknya baliho Partai Demokrat yang hanya menampilkan foto Prabowo. Sedangkan foto Gibran, yang notabenenya putra sulung Presiden Joko Widodo (Jokowi), tak pernah terpampang dalam baliho partai berlambang bintang mercy itu.

Baca Juga

"FKPDLK migrasi ke Ganjar dari Prabowo, cabut haknya dari Prabowo karena alasan dalam pidato saya. Saya yakin rakyat setuju dengan apa yang saya katakan dan saya boleh katakan juga, SBY juga setuju," ujar Ketua Umum FKLPDK Sahat Saragih lewat keterangan, Rabu (29/11/2023).

Sahat meyakini, SBY merupakan sosok negarawan yang hingga saat ini tetap mengutamakan kepentingan rakyat. Arti spanduk Partai Demokrat tanpa Gibran dipandangnya sebagai makna berkeadilan dan berkemakmuran.

Ia juga menilai Prabowo saat ini tidak memiliki kepercayaan diri karena sudah menggantungkan harapan kepada Jokowi. "Tidak ada kepercayaan Prabowo dalam dirinya lagi," kata Sahat.

Adapun keputusan tersebut merupakan aspirasi dari 34 DPD dan 412 DPC FKLPDK. Salah satu alasan pencabutan dukungan dari Prabowo-Gibran adalah tatanan hukum yang dirusak demi hanya untuk kepuasan politik kekuasaan.

"Kekuasaan digunakan untuk memporak-porandakan tatanan hukum Indonesia hanya untuk kepuasan nafsu politik. Itu artinya tidak ada lagi etika dan aturan hukum di Indonesia," ujar Sahat.

"Penguasa bernafsu untuk mempertahankan kekuasaannya melalui anak sulungnya, itu artinya penguasa tidak berjiwa negarawan," katanya menegaskan.

Sementara, Ganjar-Mahfud dipandangnya sebagai dua insan pemimpin yang tangguh dan sudah teruji. Pasangan yang visioner dan menjadi kombinasi yang sempurna membawa Indonesia menjadi negara besar.

"Kami akan bekerja keras untuk mengajak rakyat memilih Ganjar-Mahfud menjadi presiden dan wakil presiden RI tahun 2024," kata Sahat.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement